A.
PENDAHULUAN
Matematika adalah sebuah cabang dari ilmu pengetahuan yang sudah muncul dari berabad abad tahun yang lalu, permasalahan matematika muncul berbeda beda pada tiap tiap jaman tertentu baik pada jaman Negara Mesopotamia, Babilonia, Mesir, dan Yunani. Dari negara negara itulah mereka berusaha untuk mempelajarai dan mengkaji lebih lanjut mengenai permasalahan matematika. Mereka melakukannya dengan cara abstraksi dan cara idealis. Mereka berusaha untuk mencari fakta bahwa ilmu itu bersifat tetap atau berubah ubah, seperti tokoh yang menganut bahwa ilmu itu tetap adalah Permenides dan tokokh yang menganut bahwa ilmu itu bersifat berubah ubah adalah Heraclitos.
Dari hal tersebut munculah berbagai intuisi intuisi sehingga muncul filsafat pendidikan matematika, hal ini juga didasari bahwa menemukan filsafat matematika itu dengan berpikir secara ekstensi yaitu berpikir secara seluas luasnya dan berpikir secara intensi yaitu berpikir secara sedalam dalamnya. Didalam matematika terdapat beberapa kajian yang pokok meliputi epistemology, aksiologi dan ontology.
Matematika juga memiliki hakekat sebagai ilmu yang tidak terbebas dari ruang dan waktu, dan ciri ciri ilmu matematika yang tidak terbebas dari ruang dan waktu bersifat kontradiktif, relative, plural dan berkorespondensi. Matematika itu juga memiliki dimensi yang berbeda beda pada tiap jenjang pendidikan yaitu dengan menggunakan system pembelajaran yang berbeda beda.
Matematika adalah sebuah cabang dari ilmu pengetahuan yang sudah muncul dari berabad abad tahun yang lalu, permasalahan matematika muncul berbeda beda pada tiap tiap jaman tertentu baik pada jaman Negara Mesopotamia, Babilonia, Mesir, dan Yunani. Dari negara negara itulah mereka berusaha untuk mempelajarai dan mengkaji lebih lanjut mengenai permasalahan matematika. Mereka melakukannya dengan cara abstraksi dan cara idealis. Mereka berusaha untuk mencari fakta bahwa ilmu itu bersifat tetap atau berubah ubah, seperti tokoh yang menganut bahwa ilmu itu tetap adalah Permenides dan tokokh yang menganut bahwa ilmu itu bersifat berubah ubah adalah Heraclitos.
Dari hal tersebut munculah berbagai intuisi intuisi sehingga muncul filsafat pendidikan matematika, hal ini juga didasari bahwa menemukan filsafat matematika itu dengan berpikir secara ekstensi yaitu berpikir secara seluas luasnya dan berpikir secara intensi yaitu berpikir secara sedalam dalamnya. Didalam matematika terdapat beberapa kajian yang pokok meliputi epistemology, aksiologi dan ontology.
Matematika juga memiliki hakekat sebagai ilmu yang tidak terbebas dari ruang dan waktu, dan ciri ciri ilmu matematika yang tidak terbebas dari ruang dan waktu bersifat kontradiktif, relative, plural dan berkorespondensi. Matematika itu juga memiliki dimensi yang berbeda beda pada tiap jenjang pendidikan yaitu dengan menggunakan system pembelajaran yang berbeda beda.
B.
HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN MATEMATIKA
Pada latar belakang telah disinggung bahwa filsafat dan matematika memiliki hubungan yang erat, antara lain:
Pada latar belakang telah disinggung bahwa filsafat dan matematika memiliki hubungan yang erat, antara lain:
a. Filsafat
dan geometri (suatu cabang matematika) lahir pada masa yang sama,di tempat yang sama, dan dari
ayah yang tunggal , yakni sekitar 640-546 sebelum Masehi, di Miletus (terletak
di pantai barat negara Turki sekarang) dan dari pikiran seorang bernama Thales.
b. Matematika tidak
pernah lahir dari filsafat, melainkan keduanya berkembang bersama-sama dengan
saling memberikan persoalan-persoalan sebagai bahan masuk dan umpan balik.
c. Adanya
hubungan timbal balik dan saling pengaruh antara filsafat dan matematik dipacu
pula oleh filsuf Zeno dari Elea. Zeno
memperbincangkan paradoks-paradoks yang bertalian dengan pengertian-pengertian
gerak, waktu, dan ruang yang kemudian selama berabad-abad membingungkan para
filsuf dan ahli matematik.
Filsafat sebagai ilmu dari segala ilmu, maka penerapan filsafat
dalam pembelajaran di sekolah menjadi salah satu hal yang menarik perhatian.
Mengapa demikian? Karena biasanya filsafat hanya ada di perguruan tinggi, namun
pada zaman sekarang filsafat juga ada di sekolah. Walaupun hanya sebagai
pelengkap dalam pembelajaran, namun filsafat memberikan pengaruh yang besar
dalam pembelajaran di sekolah. Filsafat adalah kegiatan berpikir, sehingga
dalam setiap pembelajaran siswa melakukan kegiatan filsafat.
Dengan penerapan filsafat dalam pembelajaran di sekolah, maka
proses belajar mengajar akan berjalan dengan efektif dan efisien. Filsafat
memberikan keuntungan bagi guru dan juga siswa. Bagi guru, dengan adanya
pelajaran filsafat, maka guru akan lebih memahami karakter dari siswa-siswanya.
Belajar filsafat adalah berpikir, sehingga guru dapat mengetahui sejauh mana
pola pikir siswa-siswanya dalam memahami matematika. Pada pelajaran filsafat,
pendidikan karakter juga tercakup di dalamnya. Pendidikan karakter meliputi
material, formal, normatif dan spiritual. Dan dalam pembelajaran di sekolah,
keempat faktor tersebut merupakan salah satu peran filsafat dalam pembelajaran
di sekolah.
C. PENDIDIKAN MENURUT ALIRAN
FILSAFAT IDEALISME DAN REALISME
1. Tinjauan Umum
tentang Filsafat Pendidikan
Dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti alam
pikiran atau alam berpikir. Berfilsafat artinya berpikir, namun tidak semua
berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan
sungguh-sungguh. Tegasnya, filsafat adalah karya akal manusia yang mencari dan
memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Filsafat merupakan ilmu
atau pendekatan yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran
segala sesuatu. Menurut Immanuel Kant (1724-1804) yang seringkali disebut
sebagai raksasa pemikir Barat, filsafat adalah ilmu pokok yang merupakan
pangkal dari segala pengetahuan.
Kerana luasnya lapangan filsafat, orang sepakat mempelajari
filsafat dengan dua cara, yaitu mempelajari sejarah perkembangannya (metode
historis) dan mempelajari isi atau pembahasannya dalam bidang-bidang tertentu
(metode sistematis). Dalam metode historis orang mempelajari sejarah
perkembangan aliran-aliran filsafat sejak dahulu kala sehingga sekarang. Di
sini dikemukakan riwayat hidup tokoh-tokoh filsafat di segala masa, bagaimana
timbulnya aliran filsafatnya tentang logika, tentang metafisika, tentang etika,
dan tentang keagamaan. Dalam metode sistematis orang membahas isi persoalan
ilmu filsafat itu dengan tidak mementingkan sejarahnya. Orang membagi persoalan
ilmu filsafat itu dalam bidang-bidang yang tertentu. Misalnya, dalam bidang
logika dipersoalkan mana yang benar dan yang salah menurut pertimbangan akal,
bagaimana cara berpikir yang benar dan mana yang salah. Dalam bidang etika
dipersoalkan tentang manakah yang baik dan yang buruk dalam perbuatan manusia.
Dalam metode sistematis ini para filsuf dikonfrontasikan tanpa mempersoalkan
periodasi masing-masing.
Filsafat itu sangat luas cakupan pembahasannya, yang
ditujunya adalah mencari hakihat kebenaran atas segala sesuatu yang meliputi
kebenaran berpikir (logika), berperilaku (etika), serta mencari hakikat atau
keaslian (metafisika). Sejak zaman Aristoteles hingga dewasa ini
lapangan-lapangan yang paling utama dalam filsafat selalu berputar di sekitar
logika, metafisika, dan etika. Dengan memperhatikan sejarah serta
perkembangannya, filsafat mempunyai beberapa cabang yaitu: (1) Metafisika:
filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika, hakikat yang bersifat
transenden dan berada di luar jangkauan pengalaman manusia; (2) Logika:
filsafat tentang pikiran yang benar dan yang salah; (3) Etika: filsafat tentang
perilaku yang baik dan yang buruk; (4) Estetika: filsafat tentang kreasi yang
indah dan yang jelek; (5) Epistomologi: filsafat tentang ilmu pengetahuan; (6)
Filsafat-filsafat khusus lainnya: filsafat agama, filsafat manusia, filsafat
hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat pendidikan, dan sebagainya.
Filsafat akan memberikan kepuasan kepada keinginan manusia
akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, tentang kebenaran. Fungsi
filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah
dan menuntun pada jalan baru serta membangun keyakinan atas dasar kematangan
intelektual. Filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi dapat dipraktekkan
dalam hidup sehari-sehari. Filsafat akan memberikan dasar-dasar pengetahuan
yang dibutuhkan untuk hidup secara baik, bagaimana hidup secara baik dan
bahagia. Dengan kata lain, tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran
sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun
metafisik (hakikat keaslian).
Pendekatan filosofis untuk menjelaskan suatu masalah dapat
diterapkan dalam aspek-aspek kehidupan manusia, termasuk dalarn pendidikan.
Filsafat tidak hanya melahirkan pengetahuan banu, melainkan juga melahirkan
filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan adalah filsafat terapan untuk
memecahkan masalah-masalah pendidikan yang dihadapi. John Dewey (1964)
berpendapat bahwa filsafat merupakan teon umum tentang pendidikan. Filsafat
sebagai suatu sistem berpikir akan menjawab persoalan-persoalan pendidikan yang
bersifat filosofis dan memerlukan jawaban filosofis pula.
Setiap praktik pendidikan atau pembelajaran tidak terlepas
dari sejumlah masalah dalam mencapai tujuannya. Upaya pemecahan masalah
tersebut akan memerlukan landasan teoretis-filosofis mengenai apa hakikat
pendidikan dan bagaimana proses pendidikan dilaksanakan. Henderson dalam
Sadulloh (2004) mengemukakan bahwa filsafat pendidikan adalah filsafat yang
diaplikasikan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan. Peranan
filsafat yang mendasari berbagai aspek pendidikan merupakan suatu sumbangan yang
berharga dalam pengembangan pendidikan, baik pada tataran teoretis maupun
praktis. Filsafat sebagai suatu sistem berpikir dengan cabang-cabangnya
(metafisika, epistemologi, dan aksiologi) dapat mendasari pemikiran tentang
pendidikan.
Menurut Brubacher (1959), terdapat tiga prinsip filsafat
yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu: (1) persoalan etika atau teori nilai;
(2) persoalan epistemologi atau teori pengetahuan; dan (3) persoalan metafisika
atau teoni hakikat realitas. Untuk menentukan tujuan pendidikan, memotivasi
belajar, mengukur hasil, pendidikan akan berhubungan dengan tata nilai.
Persoalan kuriikulum akan berkaitan dengan epistemologi. Pembahasan tentang
hakikat realitas, pandangan tentang hakikat dunia dan hakikat manusia
khususnya, diperlukan untuk menentukan tujuan akhir pendidikan.
Metafisika memberikan sumbangan pemikiran dalam membahas
hakikat manusia pada umumnya, khususnya yang berkaitan dengan hakikat anak,
yang bermanfaat dalam menentiikan tujuan akhir pendidikan. Mempelajari
metafisika perlu sekali untuk mengontrol tujuan pendidikan dan untuk mengetahui
bagaimana dunia anak. Epistemologi sebagai teori pengetahuan, tidak hanya
menentukan pengetahuan mana yang harus dipelajari tetapi juga menentukan
bagaimana seharusnya siswa belajar dan bagaimana guru mengajar. Pendidikan
perlu mengetahui persoalan belajar untuk mengembangkan kurikulum, proses dan
metode belajar. Aksiologi akan menentukan nilai-nilai yang baik dan yang buruk
yang turut menentukan perbuatan pendidikan. Aksiologi dibutuhkan dalam
pendidikan, karena pendidikan harus menentukan nilai-nilai mana yang akan
dicapai melalui proses pendidikan. Disadari atau tidak, pendidikan akan
berhubungan dengan nilai, dan pendidikan harus menyadari kepentingan
nilai-nilai tersebut.
Dalam arti luas filsafat pendidikan mencakup filsafat
praktek pendidikan dan filsafat ilmu pendidikan (Mudyahardjo, 2001). Filsafat
praktek pendidikan membahas tentang bagaimana seharusnya pendi-dikan
diselenggarakan dan dilaksanakan dalam kehidupan manusia mencakup filsafat
praktek pendidikan dan filsafat sosial pendidikan. Filsafat ilmu pendidikan
adalah analisis kritis komprehensif tentang pendidikan sebagai bentuk teori
pendidikan. Aspek filsafat dalam ilmu pendidikan dapat dilihat berdasarkan
empat kategori sebagai berikut: (1) Ontologi ilmu pendidikan yang membahas
tentang hakekat substansi dan pola organisasi ilmu pendidikan; (2) Epistemologi
ilmu pendidikan yang membahas tentang hakekat objek formal dan material ilmu
pendidikan; (3) Metodologi ilmu pendidikan yang membahas tentang hakekat
cara-cara kerja dalam menyusun ilmu pendidikan; (4) Aksiologi ilmu pendidikan,
membahas tentang hakekat nilai kegunaan teoritis dan praktis ilmu pendidikan.
Kajian terhadap fisafat pendidikan akan memadukan keempat
aspek tersebut di atas sebagai landasan dalam menjawab tiga masalah pokok,
yaitu sebagai berikut: (1) Apakah sebenarnya pendidikan itu? (2) apakah tujuan
pendidikan sebenarnya? dan (3) Dengan cara apa tujuan pendidikan itu dapat
dicapai? (Henderson, 1959). Jawaban masalah pokok tersebut tertuang dalam: (1)
Tujuan pendidikan: (2) Kurikulum, (3) Metode pendidikan, (4) Peranan peserta
didik; dan (5) Peran tenaga pendidik.
Dalam sejarah perkembangan filsafat telah lahir sejumlah
aliran filsafat. Dengan adanya aliran-aliran filsafat, maka konsepsi mengenai
filsafat pendidikan telah dipengaruhi oleh aliran-aliran tersebut. Dengan
memperhatikan obyek filsafat dan masalah pokok pendidikan, selanjutnya akan
dibahas aliran filsafat idealisme dan realisme dalam melandasi pengembangan
teori pendidikan.
2. Aliran
Filsafat Idealisme dalam Pendidikan
Idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa
pengetahuan itu tidak lain daripada kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan
kenyataan yang diketahui manusia itu terletak di luarnya. Konsep filsafat
menurut aliran idealisme adalah: (1) Metafisika-idealisme; Secara absolut
kenyataan yang sebenarnya adalah spiritual dan rohaniah, sedangkan secara
kritis yaitu adanya kenyataan yang bersifat fisik dan rohaniah, tetapi
kenyataan rohaniah yang lebih dapat berperan; (2) Humanologi-idealisme; Jiwa
dikarunai kemampuan berpikir yang dapat menyebabkan adanya kemampuan memilih;
(3) Epistemologi-idealisme; Pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi
dan pengingatan kembali melalui berpikir. Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai
oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran yang cemerlang; sebagian besar
manusia hanya sampai pada tingkat berpendapat; (4) Aksiologi-idealisme;
Kehidupan manusia diatur oleh kewajiban-kewajiban moral yang diturunkan dari
pendapat tentang kenyataan atau metafisika
Dalam hubungannya dengan pendidikan, idealisme memberi
sumbangan yang besar tehadap perkembangan filsafat pendidikan. Kaum idealis
percaya bahwa anak merupakan bagian dari alam spiritual, yang memiliki
pembawaan spiritual sesuai potensialitasnya. Oleh karena itu, pendidikan harus
mengajarkan hubungan antara anak dengan bagian alam spiritual. Pendidikan harus
menekankan kesesuian batin antara anak dan alam semesta. Pendidikan merupakan
pertumbuhan ke arah tujuan pribadi manusia yang ideal. Pendidik yang idealisme
mewujudkan sedapat mungkin watak yang terbaik. Pendidik harus memandang anak
sebagai tujuan, bukan sebagai alat.
Menurut Power (1982), implikasi filsafat pendidikan
idealisme adalah sebagai berikut: (1) Tujuan: untuk membentuk karakter,
mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikkan sosial; (2)
Kurikulum: pendidikan liberal untuk pengembangan kemam-puan dan pendidikan
praktis untuk memperoleh pekerjaan; (3) Metode: diutamakan metode dialektika,
tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan; (4) Peserta didik bebas
untuk mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuan dasarnya; (5) Pendidik
bertanggungjawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan melalui kerja sama
dengan alam.
3. Aliran
Filsafat Realisme dalam Pendidikan
Aliran filsafat realisme berpendirian bahwa pengetahuan
manusia itu adalah gambaran yang baik dan tepat dari kebenaran. Konsep filsafat
menurut aliran realisme adalah: (1) Metafisika-realisme; Kenyataan yang
sebenarnya hanyalah kenyataan fisik (materialisme); kenyataan
material dan imaterial (dualisme), dan kenyataan yang terbentuk dari
berbagai kenyataan (pluralisme); (2) Humanologi-realisme; Hakekat
manusia terletak pada apa yang dapat dikerjakan. Jiwa merupakan sebuah
organisme kompleks yang mempunyai kemampuan berpikir; (3)
Epistemologi-realisme; Kenyataan hadir dengan sendirinya tidak tergantung pada
pengetahuan dan gagasan manusia, dan kenyataan dapat diketahui oleh pikiran.
Pengetahuan dapat diperoleh melalui penginderaan. Kebenaran pengetahuan dapat
dibuktikan dengan memeriksa kesesuaiannya dengan fakta; (4)
Aksiologi-realisme; Tingkah laku manusia diatur oleh hukum-hukum alam yang
diperoleh melalui ilmu, dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh
kebiasaan-kebiasaan atau adat-istiadat yang telah teruji dalam kehidupan.
Dalam hubungannya dengan pendidikan, pendidikan harus
universal, seragam, dimulai sejak pendidikan yang paling rendah, dan merupakan
suatu kewajiban. Pada tingkat pendidikan yang paling rendah, anak akan menerima
jenis pendidikan yang sama. Pembawaan dan sifat manusia sama pada semua orang.
Oleh karena itulah, metode, isi, dan proses pendidikan harus seragam. Namun,
manusia tetap berbeda dalam derajatnya, di mana ia dapat mencapainya. Oleh
karena itu, pada tingkatan pendidikan yang paling tinggi tidak boleh hanya ada
satu jenis pendidikan, melainkan harus beraneka ragam jenis pendidikan. Inisiatif
dalam pendidikan terletak pada pendidik bukan pada peserta didik. Materi atau
bahan pelajaran yang baik adalah bahan pelajaran yang memberi kepuasan pada
minat dan kebutuhan pada peserta didik. Namun, yang paling penting bagi
pendidik adalah bagaimana memilih bahan pelajaran yang benar, bukan memberikan
kepuasan terhadap minat dan kebutuhan pada peserta didik. Memberi kepuasan
terhadap minat dan kebutuhan siswa hanyalah merupakan alat dalam mencapai
tujuan pendidikan, atau merupakan strategi mengajar yang bermanfaat.
Menurut Power (1982), implikasi filsafat pendidikan realisme
adalah sebagai berikut: (1) Tujuan: penyesuaian hidup dan tanggung jawab
sosial; (2) Kurikulum: komprehensif mencakup semua pengetahuan yang berguna
berisi pentahuan umum dan pengetahuan praktis; (3) Metode: Belajar tergantung
pada pengalaman baik langsung atau tidak langsung. Metodenya harus logis dan
psikologis. Metode pontiditioning (Stimulua-Respon) adalah metode pokok yang
digunakan; (4) Peran peserta didik adalah menguasai pengetahuan yang handal
dapat dipercaya. Dalam hal disiplin, peraturan yang baik adalah
esensial dalam belajar. Disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk memperoleh
hasil yang baik; (5) Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, terampil
dalam teknik mengajar dan dengan keras menuntut prestasi peserta didik.
D. KESIMPULAN
Berdasarkan kajian yang telah dikemukakan dalam pembahasan
sebelumnya diperoleh temuan sebagai sebagai berikut:
Pertama, aliran filsafat
idealisme dalam pendidikan menekankan pada upaya pengembangan bakat dan
kemampuan peserta didik sebagai aktualisasi potensi yang dimilikinya. Untuk
mencapainya diperlukan pendidikan yang berorientasi pada penggalian
potensi dengan memadukan kurikulum pendidikan umum dan pendidikan praktis. Kegiatan
belajar terpusat pada peserta didik yang dikondisikan oleh tenaga pendidik.
Kedua, pendidikan
menurut aliran filsafat realisme menekankan pada pembentukan peserta didik agar
mampu melaksanakan tanggung jawab sosial dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.
Untuk mencapainya diperlukan pendidikan yang ketat dan sistematis dengan
dukungan kurikulum yang komprehensif dan kegiatan belajar yang teratur di bawah
arahan oleh tenaga pendidik.
Berdasarkan temuan
tersebut dapat dikemukakan bahwa aliran filsafat idealisme dan realisme
pendidikan tidak perlu dipertentangkan, tetapi dapat dipilih atau dipadukan
untuk menemukan aliran yang sesuai dalam melandasi teori dan praktek pendidikan
untuk mencapai tujuannya. Dengan kata lain idealisme ataupun realisme pendidikan
dapat diterapkan tergantung konteks dan kontennya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar